Kemungkinan besar Paulus bertemu Apolos pertama kali di Efesus (Kisah 19:1; 1Kor 16:12), dari mana dia menulis surat 1Korintus, surat di mana nama Apolos muncul paling sering (1Kor 1:12; 3:4, 5, 6, 22; 4:6; 16:12). Berarti Apolos sedang berada di Efesus pada saat Paulus menulis surat itu.Apolos adalah seorang yang fasih berbicara dan dan sangat mahir dalam soal-soal kitab suci (Kis 18:24). Dia datang ke Efesus pada saat Paulus sudah melanjutkan perjalanan ke Antiokhia. Dia hanya bertemu dengan Priskila dan Akwila. Pada saat dia berangkat dan sudah tiba di Korintus, Paulus pun tiba kembali di Efesus pada Perjalanan Misionarisnya yang ketiga (Kis 19:1). Pada perjalanan misionaris yang kedua, Paulus telah tiba di Korintus, dan dialah yang mendirikan jemaat di Korintus. Apolos datang ke Korintus setelah sudah ada jemaat yang didirikan Paulus. Itulah sebabnya Paulus berkata “Aku menanam, Apolos menyiram” (1Kor 3:6).
Paulus tinggal di Efesus selama tiga tahun (Kis 20:31). Kemungkinan setelah tahun pertama di Efesus, Paulus menulis surat 1Korintus. Artinya, Apolos hanya berada di Korintus kurang dari 2 tahun, karena pada waktu Paulus menulis surat 1 Korintus, Apolos kemungkinan besar sudah ada di Efesus (1Kor 16:12).
Pekerjaan Apolos di Korintus dalam waktu yang singkat itu tentu telah memberikan kesan sangat mendalam bagi jemaat di Korintus. Banyak anggota jemaat yang mengatakan “aku dari golongan Apolos” (1Kor 1:12). Jemaat pun berselisih dan terjadi perpecahan. Tentu saja bukanlah maksud Apolos untuk membuat jemaat itu terpecah. Pada waktu datang dari Efesus, Priskila dan Akwila menulis surat ke Korintus agar mereka menyambut Apolos (Kis 18:27). Di Korintus, Apolos “oleh kasih karunia Allah, menjadi seorang yang sangat berguna bagi orang-orang yang percaya. Sebab dengan tak jemu-jemunya ia membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias” (18:27, 28). Paulus pun melakukan hal yang sama ketika dia berada di Korintus: “Paulus dengan sepenuhnya dapat memberitakan firman, di mana ia memberi kesaksian kepada orang-orang Yahudi, bahwa Yesus adalah Mesias” (18:5). Kedua-duanya ahli kitab suci. Kedua-duanya pandai bicara. Kedua-duanya mengabarkan bahwa Yesus adalah Mesias.
Biasanya jemaat sangat mengingat keistimewaan maupun kekurangan setiap gembalanya. Tidak jarang jemaat terbagi berdasarkan gembala favorit atau ketua favorit mereka. Bagaimana sikap para pemimpin sebagai kawan sekerja dalam menghadapi keadaan seperti ini? Mari kita lihat sikap Paulus dan Apollos.
Dari Korintus datanglah laporan kepada Paulus tentang hal tersebut (1Kor 1:11). Paulus berkata: “Jadi, apakah Apolos? Apakah Paulus? Pelayan-pelayan Tuhan yang olehnya kamu menjadi percaya, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan kepadanya. Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri. Karena kami adalah kawan sekerja Allah; kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah” (1Kor 3:5-9).
Ada beberapa hal yang ditekankan dalam ayat ini. Pertama, Paulus dan Apolos adalah pelayaan-pelayan Tuhan, “yang olehnya kamu menjadi percaya.” Artinya, Paulus mengakui bahwa kedua mereka bukanlah sumber melainkan sarana atau alat. Yang ditinggikan di sini adalah Tuhan. Kedua, masing-masing menurut jalan yang diberikan Tuhan (masing-masing sesuai dengan yang Allah berikan). Paulus dan Apolos mempunyai karunia dan talenta serta keunikan tersendiri. Keduanya hanyalah alat Tuhan. Kembali yang ditinggikan adalah Tuhan. Ketiga, Paulus menanam, Apolos menyiran, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Baik yang menanam maupun yang menyiram tentu mempunyai satu tujuan, yaitu pertumbuhan. Tanaman yang ditanam adalah tanaman yang sama yang disiram. Obyek pekerjaan sama. Tetapi Allah yang memberikan pertumbuhan. Kembali, Allah saja yang ditinggikan.
Selanjutnya ayat di atas menekankan bahwa Paulus dan Apolos adalah sama: “kami adalah kawan sekerja Allah.” Ini bisa berarti Paulus dan Apolos adalah kawan sekerja milik Allah, atau juga kawan sekerja dengan Allah. Kawan sekerja milik Allah karena mereka berdua hanyalah sarana Allah dan Allah adalah sumber pekerjaan itu. Kawan sekerja dengan Allah, karena Paulus menanam, Apolos menyiram, dan Allah memberi pertumbuhan. Semuanya mengambil bagian dalam pertumbuhan jemaat. Dalam hal ini Paulus dan Apolos adalah rekan sekerja dengan Allah. Etika rekan sekerja Allah dalam menghadapi suasana pelik seperti di Korintus adalah meninggikan Allah, dan bukan meninggikan diri. Tidak boleh saling menjatuhkan atau melemahkan. Tidak boleh memancing di air keruh. Tidak boleh mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Dalam 1 Korintus 16:12 Paulus berkata, “Tentang saudara Apolos: telah berulang-ulang aku mendesaknya untuk bersama-sama dengan saudara-saudara lain mengunjungi kamu, tetapi ia sama sekali tidak mau datang sekarang. Kalau ada kesempatan baik nanti, ia akan datang”. Apa artinya? Paulus menyebut Apolos “saudara.” Ini adalah sebutan yang dikenakannya juga pada Titus, Timotius, Epafras, dll. Paulus memberikan berita: Mengapakah kalian berselisih, sementara kami rekan sekerja sangat akur? Kami adalah saudara. Jika dua pendeta atau pemimpin memberi kesan bahwa mereka juga memihak salah satu kelompok yang terpecah, maka perpecahan itu akan semakin buruk. Jelas bahwa ada komunikasi antara Paulus dan Apolos: “berulang-ulang aku mendesaknya untuk . . . mengunjungi kamu.” Kata “mendesak” digunakan untuk menggambarkan Paulus meminta jemaat di Roma untuk datang bertemu dengan dia (Rom 28:20); Paulus berseru memohon kepada Tuhan untuk mengambil duri dalam dagingnya (2Kor 12:8); Paulus meminta Titus untuk pergi ke Korintus (2Kor 12:18); Paulus meminta Timotius untuk tinggal di Efesus (1Tim 1:3). Dalam contoh di atas, tidak ada unsur paksaan dan kekasaran dalam komunikasi tersebut. Yang ada adalah bujukan, undangan, dan dorongan. Inilah komunikasi yang terjadi antara Paulus dan Apolos. Komunikasi ini tidak dilakukan sekali-sekali, melainkan sering, berulang-ulang, sungguh-sungguh, sepenuh hati. Jika jemaat berselisih dan pendeta tidak berkomunikasi, maka perselisihan itu bisa semakin tajam.
Paulus berkata bahwa Apolos “sama sekali tidak mau datang sekarang. Kalau ada kesempatan baik nanti, ia akan datang.” Apakah ini menunjukkan arogansi Apolos? Apakah Apolos tidak akur dan membantah desakan Paulus untuk datang? Tidak jelas apa alasan Apolos sama sekali tidak mau datang. Kalimat ini tidak berkata bahwa Apolos sama sekali tidak mau datang, melainkan Apolos sama sekali tidak mau datang “sekarang.” Artinya, Apolos mau datang, tetapi sama sekali tidak sekarang. Ada apa sekarang sehingga ia tidak mau datang sekarang? Dilanjutkan, “Kalau ada kesempatan baik nanti, ia akan datang.” Artinya, Apolos memang sedang menunggu satu klik waktu yang tepat. Sekarang bukan waktunya karena belum tepat, nanti jika ada waktu yang baik/tepat, dia akan datang? Apakah yang terjadi sehingga sekarang bukan waktu yang tepat? Menghadapi satu jemaat yang terancam terpecah karena masing-masing kelompok memihak salah satu pendeta atau pemimpin, maka sebagai rekan sekerja kita perlu mengetahui kapan waktu yang terbaik untuk datang ke jemaat itu. Paulus sendiri belum mau datang saat itu. Dia katakan: “Aku akan datang kepadamu, sesudah aku melintasi Makedonia, sebab aku akan melintasi Makedonia” (1Kor 16:5). Kalau Paulus belum datang, mengapa Apolos harus datang? Bukankah perselisihan di jemaat Korintus terjadi antara anggota-anggota yang berpihak pada pemimpin/pendetanya masing-masing? Saya pikir sudah tepatlah keputusan Apolos untuk tidak datang “sekarang” melainkan tunggu kalau sudah ada “waktu yang baik/tepat.”
Sekitar 10 tahun kemudian (AD 61), Paulus menulis surat kepada Titus yang dia tinggalkan di Kreta (Titus 1:5), Paulus memohon Titus sebagai tuan rumah untuk memperhatikan kesejahteraan Apolos yang datang bersama Zenas ke Kreta (Titus 3:13). Terlihat bahwa Paulus dan Apolos merupakan rekan sekerja yang kompak, sekalipun kadang-kadang jemaat tidak kompak. Apolos mau mendengarkan Paulus untuk pergi ke Kreta. Ini membuktikan bahwa pada waktu Paulus meminta Apolos untuk ke Korintus 10 tahun lalu, Apolos bukan melawan Paulus. Ia hanya melihat bahwa waktunya belum tepat saat itu. Paulus pun tentu mengerti alasan Apolos sekalipun ia tidak sebutkan secara gamblang.
Tampaknya Paulus dan Apolos meninggalkan satu sikap yang patut diteladani oleh para pendeta sebagai rekan sekerja Allah, ketika menghadapi konflik jemaat yang mengancam persahabatan dan persatuan rekan-rekan sekerja Allah:
a. Meninggikan Allah dan bukan diri masing-masing, serta menempatkan diri sejajar sebagai rekan sekerja Allah, yang digunakan Allah untuk pertumbuhan jemaat.
b. Menyatakan pada jemaat dengan tulus tanpa rekayasa bahwa para pendeta adalah saudara-bersaudara dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Jemaat harus tahu bahwa sekalipun ada konflik di jemaat, tidak ada konflik di kalangan pendeta.
c. Kawan sekerja Allah perlu membangun komunikasi yang membangun dan intensif. Jemaat yang sedang berselisih sedang kurang atau bahkan tidak ada komunikasi positif. Di sinilah para pendeta sebagai kawan sekerja perlu memelihara dan membuat lebin intensif komunikasi di antara mereka.
d. Kawan sekerja Allah mengetahui waktu yang terbaik untuk bertindak. Apolos juga tidak mau pergi mendahului Paulus ke Korintus karena waktu nya belum tepat “sekarang.” Yang jemaat perlu tahu adalah bahwa para pendeta mempunyai rencana bersama-sama dan mempunyai satu tujuan yang akan dilakukan pada waktu yang baik.
e. Hubungan baik kawan sekerja Allah sepatutnya berlangsung langgeng dan bukan hanya sesaat.
Kita semua adalah kawan sekerja Allah, sesama gembala, sesama pemimpin, sesama pegawai jemaat. Biarlah teladan pelayanan Paulus dan Apolos menjadi teladan bagi pelayanan kita bagi Tuhan. Selamat Sabat.
| Comments |
|
Powered by !JoomlaComment 3.25





